Menurut BMG tidak ada istilah siklus banjir 5 tahun atau 10 tahun

Dari detik dot com : Menurut BMG tidak ada istilah siklus banjir 5 tahun atau 10 tahun.

Saya memang belum sempat baca detailnya secara keseluruhan. Tetapi headline ini mau ga mau membuka memory saya ke mata kuliah Hidrologi yang saya pelajari di semester 3.

Secara teoritis, memang benar tidak ada istilah siklus banjir baik untuk setiap 5 tahun maupun 10 tahun. Tetapi yang dikenal adalah Periode Ulang Hujan (PUH) 5 tahunan, 25 tahunan dan 50 tahunan. PUH ini didapat dari catatan besarnya intensitas hujan setiap tahun. Besarnya intensitas hujan inilah yang menjadi dasar perhitungan untuk mendesign saluran drainage.

Disetiap stasiun pengamatan cuaca BMG, terdapat alat pencatat curah hujan yang mengukur intensitas hujan yang jatuh disuatu daerah selama 1 tahun. Dari catatan angka2 intensitas hujan itu dapat diketahui bahwa ada kecenderungan curah hujan lebih lebat pada perioda 5 tahun. Kemudian menjadi semakin lebat pada perioda 25 tahunan. Dan puncaknya pada perioda 50 tahunan.

Dalam perhitungan untuk mendesign saluran drainage perkotaan, biasanya digunakan angka intensitas yang berlainan tergantung urgensi dari suatu daerah. Misalnya untuk jalan2 protokol, sebaiknya menggunakan perhitungan PUH 25 tahunan. Sedangkan untuk jalan2 umum di kompleks perumahan biasanya digunakan perhitungan PUH 5 tahunan karena pertimbangan ekonomis. Makin besar angka intensitas hujan yang digunakan, maka makin mahal biaya konstruksi sebuah saluran.

Bencana banjir yang menyerang ibukota beberapa hari yang lalu, yang menurut media masa intensitasnya lebih besar dari bencana banjir tahun 2002 dan 1997, banjir disebabkan karena saluran2 yang tersedia tidak dapat menampung debit air hujan yang jatuh dengan derasnya.Selain karena saluran2 ini terhambat oleh sampah, seringkali dimensi saluran dibuat tidak sesuai dengan PUH yang optimal atau bahkan saluran yang sudah dirancang dengan baik, dipersempit oleh penduduk sekitar demi memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal.

14 thoughts on “Menurut BMG tidak ada istilah siklus banjir 5 tahun atau 10 tahun

  1. Kantormu gak kebanjiran?????Iya tuh rame-rame banget katanya itu siklus hujan 5 tahunan. Gak tau deh udah kebanyakan dosa kali Indonesia, jadi ditimpain ujian terus!Selama winter ini juga di DOha cuacanya gak beres. Biasanya yang setiap tahun, kalo ujan di winter cuma awal pembukaan musin sama berkhirnya musin aja. Ini mah kadang seharian atau tiap dua hari turun. Kan becek banget tuh!capeknya kan kasian yang punya mobil, jadi kudu nyuciin mobil setiap hari atau malah setiap abis keluar.

  2. Fi, bicara banjir mah ruwet bin njelimet… apalagi pas gw gambar system dynamics modeling-nya *bujuk Boss Medril bayarin dunk*. Sampai ke soal pemanasan global akibat penggundulan hutan dan pemakaian AC (mobil dan gedung) segala. Bahkan bicara banjir, kita harus lihat lagi yg namanya siklus air dan tabel air. Dari situ bisa dirunut ujung pangkalnya dimana. Di satu sisi Bang Yos sudah berbicara benar di Good Morning TransTV tadi pagi, bahwa penanganan banjir ga bisa di hilir doang (baca: BKT) tapi juga melibatkan pemda2 di hulu (Bogor, Cianjur, Depok). Cuma bahasanya masih ujung2nya bikin kanal juga, bukannya penghijauan dan penataan ruang terbuka hijau misalnya. tau ah…

  3. ehmm nambah ilmu baru neh…kmrn juga baca di kompas..kalo sebenarnya tata ruang saluran air jakarta itu pninggalan jaman beheulak, banjir kanal timur pun tidak menyelesaikan masalah…harusnya ada peninjauan ulang lagi ya..kemabalikan fungsi resapan air..but that`s not that simple right..mumet juga..pa lagi jadi korban nehh..bener juga kata thetrueideas..air pun ada pemilunya..huehehehe..tahun ini sekali lagi terbukti air dr bogor nambah kuat..hihihi

  4. @Ratih : aq ga kebanjiran. rumah & kantor selamat. Emang musim lagi ga bisa diprediksi@Ciput : kalo ngomongin kerjasama ama pemda laen mah, urusannya diluar teknis. Itu sih politis. Aq cuman ingin bicara tentang sistem drainase perkotaan. Soalnya aku perhatiin banjir ditempat2 yang ga biasa kena banjir lebih disebabkan oleh intensitas hujan yang besar. Buktinya banjirnya cepet surut.Sedangkan daerah2 yang jadi langganan banjir mah emang seharusnya ga ditempatin.

  5. haiqa said: @Widi : Rumahmu dimana? Koq jadi korban. Parah enggak? mudah2 cepet surut ya.

    aq kos di kelapa gading..hiks..jadi korban juga deh jadinya..

  6. Fi, kebetulan lagi asyik bikin makalah buat pansus RUU Penanganan Bencana, ini aku kasih kutipan bagus:Milleti (1999) dalam Petak (2003):“Disasters are by design; that is, disasters are the result of the collective policies and decisions made by society in planning land use and design and construction of buildings and infrastructure.”(Sumber: Petak, W.J. 2003. Earthquake Mitigation Implementation: A Sociotechnical System Approach. EERI 2003 Distinguish Lecture. University of Southern California. San Diego, USA)

  7. Oya, satu lagi gw sempat diskusi sama Pak Rizal (Kamis 01/02/07) di rumahnya di BSD, kami sampai pada kesimpulan bahwa intensitas hujan yang sedemikian besar lebih disebabkan perubahan pola musim hujan, dulunya khan 6 bulan kering 6 bulan basah, sekarang 10 bulan kering 2 bulan basah. Perubahan ini diduga akibat pemanasan global. Padahal kalau dilihat dari siklus dan tabel air (lagi2 kuliah Hidrologi) jumlah massa air dalam siklus a/ tetap (atau juga meningkat malah). Terus ditambah penyempitan badan2 air (sungai, danau/situ) karena sampah, penimbunan atau dibangun rumah di bantarannya, akibatnya badan2 air jadi mirip corong yg sempit. Begitu massa air yg menumpuk tadi datang, ya mbludak! Banjir lah kita. Kenapa 5 tahun? penjelasanmu di atas sudah menjawab. *ini gara2 bikin makalah juga :D*

  8. @henong : Salam kenal juga. Gw juga weekend di Bdg ampe 5 hari.@Ciput : Well pak’e, that’s a good quote. Bisa jadi dasar pemikiran untuk evaluasi sistem drainase perkotaan.Kadang2 aq heran, pekerjaan bisa bikin qta lebih mengerti pelajaran/matakuliah yang dulu buat ngertinya aja mesti setengah mati. Selamat membuat makalah. Ganbatte ne!!

  9. Kadang2 aq heran, pekerjaan bisa bikin qta lebih mengerti pelajaran/matakuliah yang dulu buat ngertinya aja mesti setengah mati.——————————————————————————-karena… dulu cuma teori mulu, sekarang pan langsung praktek dan ada pemicunya: gaji! :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s