High Risk Building

Waktu baru lulus kuliah saya sering membayangkan apa rasanya ya, kerja di Jakarta di Gedung bertingkat tinggi di kawasan bisnis seperti Jalan Thamrin ato Sudirman. Sepertinya keren. Tiap pagi pake lift bareng sama orang2 yang ga kita kenal, bisa melihat pemandangan kota dari suatu ketinggian, ato bergaya modern dengan miniskirt and high heels. Kesannya canggih dan bonafit gitu.

Secara teoritis, saya tahu bahwa gedung bertingkat tinggi bukanlah tempat yang ideal, dari sisi safety and health, sebagai tempat bekerja. Malahan dulu saya hampir melakukan penelitian untuk skripsi saya mengenai tingkat penularan penyakit bagi orang2 yang bekerja di gedung bertingkat tinggi. Tapi karena perijinannya yang sulit, maka saya merubah tempatnya ke RSS (rumah sangat sederhana).

Well, back to high risk building. Pengalaman kerja pertama saya di gedung bertingkat tinggi adalah di Menara Imperium di lantai 12X (sebener na sih lantai 13, cuman angka 13 kan angka sial, jadi dirubah namanya). Di gedung ini saya mengalami peristiwa buruk, Alarm kebakaran berbunyi waktu kita sedang meeting. Perlu waktu beberapa saat untuk menyadari apa yang terjadi. Seorang teman kerja (Ehm! cowok saya waktu itu), narik tangan saya untuk segera lari. Kami dan beberapa orang masuk ke lift untuk turun. Tapi kemudian lift terbuka secara otomatis di lantai 11, dan kami langsung lari ke tangga darurat. Makin bawah asap makin tebal, dan saya mulai sulit bernapas. Di lantai 4, seorang satpam menyuruh kita keluar dan masuk areal parkir. Dari gedung parkir akhirnya saya bisa selamat sampai ke taman di depan gedung.

Seluruh badan saya gemetar, saya duduk direrumputan bersama orang2 lain. Ada yang nangis, ada yang nenteng sepatu hak tingginya, ada yang bawa sekumpulan map kosong (kayaknya dia salah ambil deh), bahkan ada yang bawa CPU *duh sempet2nya*. Informasi dari satpam, bahwa ada karyawan bank di Lantai 3 yang membakar tempat sampah sebagai protes karena di PHK. Emang cuman tempat sampah, tapi bikin heboh seluruh tenant gedung yang terdiri dari 30 lantai ini. Please deh!!!

Pengalaman buruk kedua adalah di Gedung Danamon Aetna lantai 29. Sebenerna ini bukan kantor saya, saya cuman dateng untuk meeting di kantor pusat (saya ngantor di project nya, di Pulomas). Meeting belum dimulai dan kita masih menunggu beberapa manager yang belum hadir. Beberapa menit kemudian saya merasa pusing sejenak, saya ngeliat ke Novi teman saya, sepertinya dingerasain hal yang sama. Terus salah seorang disitu bilang ”eh, ada gempa ya??” Dan terjadi lagi, kunci lemari buku bergoyang-goyang. Buh, semua orang keluar ruangan menuju lift. Saya teringat pengalaman di Menara Imperium, kalo keadaan darurat jangan masuk lift, tapi masa saya harus turun lewat tangga 29 lantai sih??? Yang bener aja? Tapi untung gempa tidak berlanjut dan kita kembali ke ruang meeting, walaupun akhirnya meeting dibatalkan.

Informasi yang saya dapatkan kemudian, sebenerna sih gempanya ga begitu besar. Tapi karena saya ada diketinggian lebih dari 100 m, maka amplitudonya menjadi lebih besar dan sangat dirasakan oleh kita yang ada didalamnya. Orang laen yang sedang ada dijalan, belum tentu merasakannya.

Dua pengalaman itu, sudah cukup membuat saya trauma kerja di High risk building. Tapi toh kemudian saya kerja juga di Ratu Plaza. Disini malah lebih banyak yang terjadi (dalam kurun waktu 3 tahun). Mulai dari tikus yang berkeliaran disekitar meja kerja saya, AC yang sering mati, 2 kali asap karena kabel yang terbakar, Melihat orang yang terjepit pintu lift, hingga pengalaman terjebak dalam lift (cerita lengkapnya bisa dilihat disini). Wuh! Mungkin saya memang tidak berjodoh dengan gedung bertingkat tinggi.

4 thoughts on “High Risk Building

  1. huahuahuaa…trauma ni yee…!!!jangan kapok toh kerja di high building!Banyak loh orang yang mendambakan atau bahkan memimpikan untuk dapat bekerja disana, tetapi apalah daya, mentok di pendidikan yang akhirnya cuma bisa gigit jari kalo liat gedung tinggi. (Siapa tuh?hayo ngacung!*aku kali ya?*)Iya, aku belum pernah ngerasain kerja digedung yang sampe bertingkat-tingkat kayak gitu!paling banter itu 5 tingkat aja kali!itu pun cuma pas magang aja!*duh nasib*kapan ya bisa?Tapi kan kebanyakan enaknya daripada bahayanya, ya kan?kejadian-kejadian itu kan cuma sekali dua terjadi. gak setiap hari!

  2. pertama kali yang terpikir kalo kerja di high building adalah high cost huehehehe..trus ga kbayang harus lari2 turun tangga dr tingkat berpuluh2..kayak temenku kerja di lantai 16, bgitu ada alarm harus lari turun tangga..yach beruntung kantorku cuma 3 lantai..kalo telat tinggal lari doang..ga kudu antri lift..tp emang kadang kpingin juga kerja di gedung2 itu..hehehe..

  3. Kalo high cost sih enggak juga. Tempat makan siang yang murah banyak banget di belakang gedung2 itu. Ga selalu harus makan di foot court nya. Untuk fashion mungkin.Saya pernah kerja di BEJ tower selama 6 bulan. Nah disitu baru high cost. Secara tempat makan yang murah rada jauh, dan ga ada kendaraan umum yang lewat dpn gedung. So saya harus bawa mobil (bayar parkir jam2an) ato naek ojek. Disini mah ga pernah ada pengalaman buruk secara gedung ini safety rules nya ketat banget. (mungkin karena pernah di bom ya)Emang bener kejadian2 mengerikan ga tiap hari terjadi. Temen saya udah kerja lebih dari 5 th di WTC ga pernah napa2. Yang di Wisma Nusantara juga baek2 aja. Tau napa kok gw yang sering dapet peristiwa aneh2.Nasib…nasib….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s