Pasangan kita = Saingan kita

Secara jujur harus saya akui, bahwa saya bukanlah tipe orang yang suka bersaing. Malahan saya cenderung menghindari segala sesuatu yang bersifat kompetisi, baik yang bentuknya resmi pertandingan atau hanya sekedar persaingan meraih nilai dalam pelajaran. Menurut saya, sifat saya ini merupakan kelemahan saya, karena saya jadi cenderung malas dan sulit termotivasi untuk berusaha meraih sesuatu.

Sifat ini berlawanan sekali dengan suami saya. Kalo dia orangnya sangat tidak mau dikalahkan. Salah satu contoh, waktu masih pacaran, suami saya termasuk cowok yang tidak bisa berenang, walaupun dia tidak sampai tenggelam di kolam. Dalam waktu 1 tahun, dia sudah bisa berenang 30 kali bolak balik, hanya karena saya *ceweknya* selalu berenang 30 kali bolak balik, setiap minggu.

Setelah menikah, hal semacam itu masih sering terjadi. Saya adalah gamer sejati. Saya bisa tahan berjam2 main game di komputer hanya untuk meraih rangking tertinggi. Tentu saja suami saya ga mau kalah, dia bahkan rela 2 malam berturut2 nyaris tidak tidur demi mengalahkan rekor saya dalam ‘Puzzle Express’. Yang susah akhirnya saya juga, karena saya harus mijitin tangannya yang pegel akibat megang mouse kelamaan.

Tapi itu semua tidak seberapa. Suami saya juga suka sekali menyuruh saya melakukan tes2 kemampuan yang didapatnya dari training peningkatan kemampuan. Misalnya, dia baru saja mendapat pelatihan mengenai teknik marketing dari suatu lembaga penyelenggara training ternama. Dia biasanya akan memaksa saya mengerjakan tes kemampuan seperti yang sudah dikerjakannya diakhir masa training. Tadinya saya kira dia mau membagi pengalamannya dengan saya. Tapi setelah saya pikir2 lagi, kayaknya dia cuman pengen tau kemampuan saya dan membandingkannya dengan kemampuan dirinya.

Hari minggu 2 minggu yang lalu, waktu suami saya baru selesai menjalani pelatihan entrepreneurship. Dan salah satu tes kemampuan yang diberikan adalah mengenai EQ (emotional intelegent). Sesampainya di rumah dia maksa saya untuk *pura-puranya* ikut tes EQ juga. Saya disuruh menjawab pertanyaan2 dalam modul yang dia dapat, kemudian dia periksa lembar jawaban saya sesuai dengan petunjuk yang ada di bagian belakang modul. Untung hasil tes EQ saya dibawah hasil tes dia *tampangnya menunjukkan rasa puas* kalo enggak saya harus mengisi modul2 berikutnya. Males banget!!!!!

13 thoughts on “Pasangan kita = Saingan kita

  1. :)Suamimu model suami lucu, yang gak mo kalah sama istrinya dalam segala hal. Kalo begitu suka sebel gak sih harus menuruti segala kemauan suami.pengalaman nih buat yg lagi nyari calon suami. *lirik kediri sendiri!hihihi…*

  2. Waduh!Secara gw konsultan independen yang gaji na kagak tetap (kadang2 gede, kadang2 ga bergaji). Suami gw ga pernah merasa saingan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s