The Deathly Hallows : Klimaks

Akhirna saya buat juga review buku ke 7 Harry Potter. Ini artinya saya sudah siap mengganti settingan blog saya. Seperti biasa MP theme saya biasanya mengadaptasi hal2 yang menarik perhatian saya, dan bertahan hingga saya membuat tulisan tetang hal tersebut untuk kemudian diganti dengan hal baru lagi.

Ok, Harry Potter and the Deathly Hallows adalah buku yang paling dinantikan oleh lebih dari 70 juta penduduk di seluruh dunia termasuk saya. Harus saya akui bahwa JK Rowlings berhasil membuat pembaca penasaran bagaimana akhir perseteruan Harry – Voldie. Akankah Harry menang dan Voldie mati? Dan berhasilkah Harry melindungi orang2 yang dicintainya?

Harry dan 2 sahabatnya (Ron dan Hermione) harus mengumpulkan dan menghancurkan 4 dari 6 Horcrux yang tersisa. Dua horcrux sebelumnya, sebuah buku harian Tom Riddle sudah berhasil dihancurkannya (HP & CoS) dan Cincin Marvolo yang harus mengorbankan tangan kiri Professor Dumbledor (HP & HBP). Ketika mencari Horcrux ketiga, kalung slytherin, ternyata harus mengambil nyawa orang yang paling dipercayanya, Harry pun memutuskan untuk mencari Voldemort. Dia tidak ingin jadi orang yang diburu lagi, dan tidak ingin ada lagi orang yang mati untuk melindunginya.

So Harry mulai dari Godric’s Hollow, mantan tempat tinggal orang tua dan Dumbledor untuk mencari petunjuk dimana 4 horcrux yang lain. 2 buah sudah dapat diidentifikasi sebagai Piala Hufflepuff dan Kalung Slytherin, 2 lainnya mungkin sesuatu milik Gryfindor atau Ravenclaw, atau mungkin Nagini ular peliharaan Voldie, atau mungkin dirinya sendiri.

Well, sejak kematian Sirius Black di buku 5, saya agak kecewa dan rada males nungguin buku 6. Ketika ternyata buku 6 tak kalah suram dan tragisnya, saya mulai mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang jauh dari harapan. Tapi ternyata Rowlings tidak tega untuk mengecewakan penggemarnya lebih jauh lagi, sehingga meskipun banyak yang mati, tapi endingnya tetap klimaks.

Saya sendiri berpendapat, buku ke 7 ini penuh dengan ketegangan. Adegan pertarungan hampir selalu ada di setiap chapter. Belum lagi misteri dan teka-teki yang harus diuraikan oleh 3 sahabat ini, menambah ketegangan alur ceritanya. Ceritanya sendiri banyak dalam format flash back untuk mengungkap masa lalu Snape, Dumbledor dan hubungan mereka dengan Harry – Voldie. Disinilah banyak kejutan yang ditebar oleh Rowlings.

Dan seperti juga buku2 sebelumnya, Rowlings menyelipkan pesan moral secara implisit dalam alur ceritanya. Jadi penjahat atau pahlawan memang ditentukan oleh diri kita sendiri. Meskipun kita punya bakat untuk menjadi jahat tapi nasib dapat kita rubah. Snape yang dibesarkan dalam komunitas Slytherin pun ternyata masih punya nurani dan cinta yang bisa membuatnya jadi pahlawan. Demikian pula dengan Harry Potter yang punya kualitas untuk menjadi Slytherin sejati, tetapi lebih memilih untuk hidup dalam perjuangan. Memang hidup ini pilihan.

Sedih juga waktu selese baca novelnya, karena berarti udah ga ada lagi buku yang ditunggu2. Karena menunggu dalam penasaran itu mengasyikan juga. Apalagi kalo yang ditunggu2 ternyata pantas untuk ditunggu. Kalo pun ada kekurangannya adalah saya kurang bisa memvisualisasikan petualang Harry dalam imajinasi saya *ini berhubungan dengan kemampuan bahasa Inggris saya*. So saya akan tetap menunggu edisi terjemahan bahasa Indonesianya.

30 thoughts on “The Deathly Hallows : Klimaks

  1. gue juga ngerasa sedih dah tau bukunya dah selesai…tar lg Harry Potter dah ga nongol lg di bioskop (Sesudah seri terakhir tentunya), tp yah…emang ada rasa kehilangan yah ehehehe

  2. emang lebih enak baca bukunya..nunggu terjemahan aza ahh..soale mahal bgt y versi inggris..ehmm untung aq termasuk orang y fine2 aza klo di spoiler-in dan meng-spoilerkan..

  3. gw baca sana-sini dgn giatnya waktu bukunya nyampe di tangan gwskrg stlh tau semua garis besarnya, gw rada lost interest utk ngebaca dr awal…….*baka! baka! bakaaaaaaa!!!!! T__T*

  4. viegirly said: yah… masa ceritanya gityu aja sie… khan jadi tambah penasaran…:)

    kudu nyari bukunya sendiri, spoiler dong jadinya klo diceritain semuaseru koq…

  5. viegirly said: yah… masa ceritanya gityu aja sie… khan jadi tambah penasaran…:)

    Makanya baca, ayo….ayo….ntar kalo kebanyakan spoiler jadi kayak sakurablue lo!

  6. hehehehee…. soalnya kalo beli yang edisi english… ntar belum slese baca…yang edisi indonesia dah kluar..nti nyesel lagi… mending sambil nunggu… cari spoilernya dulu…heheheheee….

  7. udah dapet siee…yang english usaha… ngehack dari internet hehehehe….tapi ga seru bacanya… kadang ada english yang ngga begitu bisa dikhayalin jadi ngga enak…

  8. tapi buku 7 emang jempol deh…. ga suram dan happy ending….. kekeke… saking happynya gue ampe mo ngakak baca akhirnya.. kayak baca komik aja… hihi…

  9. haiqa said: Berarti : bab terakhir yang 19 tahun kemudian itu ga penting yak?

    SPOILER ALERTmenurut gue seh agak-agak enggak penting ^^mungkin itu dilakukan oleh JK Rowling untuk :1. memuaskan keinginan fansnya yang mau ada cerita harpot sampe gede2. biar para harry/hermione shipper tahu bahwa harry-hermione hanya sahabat dekat. soalnya kalo enggak dituntaskan kaya gitu, bakal berkelanjutan akan dengan siapakah Harry?!! Hehehe..atau kemungkinan ke-3 :supaya cerita Harry Potter tamat sampai situ aja dan enggak dilanjutin lagi.

  10. janganpanggilakusexy said: menurut gue endingnya terlalu kinky (ngikutin kata kayla)terlalu happy ever afterwakakakakakakaka……

    yup… rada jayus kata gue endingnya juga.. jd kayak baca komik aja.. ekkekek… ga matching ama whole plot harpot yg negangin.. hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s