Korupsi & Mark Up

Salah satu manfaat dari naek KA jurusan Bandung Jakarta adalah bahwa kita bisa ngobrol tentang hal2 yang ga penting sama orang yang ga kita kenal. Hal itu yang terjadi pada saya kira2 seminggu yang lalu.

Disebelah saya duduk seorang bapak *yah, kira2 umurnya sedikit lebih tua dari gw* yang mencoba berbasa-basi nanyain pekerjaan gw. Waktu gw bilang kalo gw konsultannya Bappenas, dia langsung *seperti yang udah gw duga* curhat mengenai sistem di kantor pemerintah. Cuman yang diluar dugaan adalah bahwa yang dia curhatin agak lain. Begini katanya….

Bapak di sebelah gw (bdsg) : Saya ini sering masukin barang ke kantor2 pemerintah, tetapi sekarang sistem pengadaan barangnya agak susyah ya?

Gw : Iya pak, sekarang kan ada KPK yang ngawasin, jadi orang2 agak takut.

Bdsg : Kalo dulu harga komputer 17 juta, spec yang diminta 9-10 jtan. Jadi saya bisa agak longgar, saya bisa punya karyawan agak banyak. Nah sekarang untuk harga 17jt spec yang diminta seharga 15jt. Sempit banget marjinnya buat saya, saya jadi ga bisa ngapa2in jadi saya terpaksa PHK beberapa karyawan. Susah.

Gw : Oooo *manggut2*

Jujurly, baru kali ini gw bertemu orang yang “mendukung” mark-up. Biasanya orang cepet banget mencaci para birokrat yang dengan mudahnya melakukan mark-up. Gw jadi speechless.

Gw teringat satu artikel yang pernah gw baca *entah dimana* yang menulis tentang sistem pengadaan barang di Indonesia, bahwa sistem yang lama, meskipun sering di mark up tapi sudah memberi penghidupan/pekerjaan pada masyarakat Indonesia. Kenapa harga pesawat Sukhoi yang dibeli pemerintah Indo lebih mahal dari Sukhoi yang dibeli oleh Malaysia?. Sepertinya perbedaan harga ini menciptakan lapangan pekerjaan baik langsung maupun tak langsung. Tapi apa benar seperti itu? Apakah ga ada jalan lain yang lebih “halal”?

Baidewei baswei ondewei, gw sekarang lagi belajar tentang system dynamic dari seorang pakar dosen ITB jurusan studi kebijakan. Pak dosen ini bercerita tentang pengalaman dia melakukan analisa kebijakan pada satu Propinsi penghasil minyak terbesar di Indonesia. Beliau melakukan analisis menggunakan sistem dinamik yang menunjukkan hubungan yang rumit antara -gw singkat aja ya- Pendapatan perkapita/GDP *yang menjadi standar kemakmuran rakyat* dengan korupsi dan kinerja BUMD nya. Hasilnya ternyata cukup mengejutkan.

Analisa yang dilakukan oleh beliau menggunakan asumsi terjadi kebocoran korupsi di pemda tersebut sebesar 20%. Kemudian dilakukan tes, “Bahwa bila di daerah itu diasumsikan korupsi 0% alias ga ada, apakah GDP akan naik?” ternyata grafiknya menunjukkan tidak ada perubahan yang berarti. Jadi kesimpulannya ‘Korupsi boleh dong?’

Hihihi…. gw geli sambil penasaran denger hal ini, terus faktor yang bisa meningkatkan GDP apa dong? ternyata bila kinerja BUMD bisa ditingkatkan sedikit saja, maka GDP bisa meningkat. So kebijakan apa yang harus diprioritaskan oleh pemda tersebut, apakah memberantas korupsi dulu ato meningkatkan kinerja BUMD dulu?

Hmmmm?? *sambil ngusap2 dagu belaga mikir*

14 thoughts on “Korupsi & Mark Up

  1. mbak Fiy..aku pikir mark-up sih sah-sah aja asal ga kelewat batas. karna kaya’ yang mbak bilang tadi, sedikit banyak ada orang2 yang “tertolong” atas mark-up itu.Btw, setuju ga mbak kalo mark-up ga bisa dihapuskan dari kehidupan kita? secara mahasiswa ekonomi*yang termasuk generasi penerus bangsa* diajari tuh mark-up memark-up hehehe…

  2. Haaah…urusan rumit nih…Lebih enak mirin V6 daripada kayak gini he he heBtw, mark up itu emang udah mendarah daging…Aku aja kalau dapat pesanan katering dari lembaga pem…kudu mikir2 dulu netapkan harga. Soalnya dulu waktu belum tahu, aku kasih harga biasa. Astaganaga….banyak pihak yang wajib dikasih saweran!!! Buntung deh … Sekarang udah bisa ngira2 kudu di mark up berapa biar aku ada untung. Hiks…. Jadi, nggak selalu menguntungkan kan, buat si produsen…..Cuma karena tiap pesan bisa ribuan porsi…hitung2 nabung buat nama he he he

  3. unee333 said: *dah baca*masa si korupsi ga ngaruh?variable nya apa aja mba?eh, variable? enng.. ituh..*ikut ngusep2 dagu*

    Unee, sistem dinamik yang dipake ama dosen ITB itu rumit pisan. sudah menghubungkan banyak faktor mulai dari nilai2 yang eksak seperti cadangan minyak, sumber PAD selain minyak, pertumbuhan penduduk, termasuk kebijakan2 yang ditetapkan oleh pemda tersebut. Yang aku highight adalah bahwa besarnya tingkat korupsi itu ga sensitif terhadap peningkatan GDP. Tapi kita ga bisa bilang korupsi itu boleh/benar. Toh yang salah tetep salah. Dan harus diberantas. Mungkin yang perlu dipertimbangkan adalah prioritasnya….

  4. widwod said: wah dasar si bapak y aneh..jd dia ngegaji karyawannya dari mark-up tho..ughhh…

    Kalo dari sisi penjual mah sah2 aja kali Wid.Misalnya gw bikin pisang gorang, ga enak trus gw jual 1 biji 25rb. eh ada yang mau beli, yang jual ga salah kan?

  5. Erin, Yang salah tetep salah. walaupun ini kadang kondisi yang ga bisa kita hindarkan. Orang2 kayak Gw, Uchi dan Lisa (ping) yang kerja dengan lembaga pemerintah akhirnya harus melakukan toleransi2. Yang sejujurna gw ga bangga dengan itu *gw yakin Lisa juga enggak*

  6. Bukan nggak bangga lagi…sebel abis, malah.Mbok beli makan tinggal makan, masak tinggal masak…kenapa harus pada minta ‘jatah’? Bukannya dibelikan makan oleh tempat kerja juga suatu keuntungan (baca:bisa makan gratis) ?(^_^) kejamnya lagi…kalau kita nggak mau kasih, nggak bakal dipesan lagi (T_T)Setuju! Kudu diberantas tuh yang kayak gitu. Kalau semua segi di mark up, kan biaya hidup jadi pada naik, ya kan?😄

  7. bener banget.tapi gimana cara membrantas yang efektif?dulu pas ikut seminar, salah satu pembicaranya bilang susah buat ngindari apalagi membrantas mark up, korupsi karna kita berada di lingkungan yang mendukung terjadinya hal2 tsb…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s