Transportasi Masal di Jakarta

Pernahkah anda merasakan kelelahan di pagi hari ketika belum mulai kerja, bahkan belum sampai kantor? Saya sering mengalaminya dalam perjalanan dari rumah saya dari Pondok Kopi daerah pinggiran Jakarta, menuju ke Bappenas di Menteng Jakarta Pusat. Jarak yang ”hanya” 18 km harus saya tempuh dalam waktu 1 jam. Kondisi lalu lintas yang padat menyebabkan kendaraan tidak bisa bergerak lebih cepat dari 20 km/jam.

Hal yang lebih parah lagi dialami oleh pengguna transportasi umum. Terhimpit diantara ketiak penumpang bis yang melebihi kapasitasnya, menghirup asap hitam dari knalpot metro mini yang tidak terawat atau bergelantungan di pintu angkota adalah hal biasa yang sering dijumpai sepanjang perjalanan yang saya tempuh setiap hari. Ditambah lagi dengan kondisi mesin kendaraan yang tidak terawat, tanpa air condition, bangku yang rusak dan emisi gas buang yang membahayakan kesehatan.

Tulisan diatas diambil dari editorial bulletin UAQi (urban air quality improvement) edisi 3, yang gw tulis tahun 2007. Jujurly, cerita tentang rumah di pondok kopi tuh bukan gw, tapi boss gw *gw hanya nyeritain ulang aja*. Tapi yang tentang transportasi umum, itu pengalaman gw sendiri.

Waktu gw baru lulus ITB dan langsung keterima kerja di Jakarta, gw mengalami shock culture *lebay….* Setiap pagi gw harus berebut dengan sekian banyak fans mikrolet yang ganas2. Sebagai mojang bandung yang anggun dan gemulai *cuih..cuih…*, gw ga biasa tuh berebut begitu. Biasanya kalo di Bandung, angkot2 tuh nungguin kita yang masih jalan di dalam gang dengan santai. Sementara di Jakarta ini, yang ada kita harus lari2 mengejar mikrolet yang hanya mau jalan pelan2 supaya kita bisa loncat naek ke dalam mikrolet yang jumlah penumpangnya terbatas. *bener2 perjuangan*

Karena beratnya persaingan naik mikrolet, gw beralih ke metro mini *dengan harapan moda transportasi ini memuat lebih banyak orang* Ternyata ga lebih baik. Gw malah kejepit2 ga jelas, belon lagi bau keringet orang laen pada nempel di baju gw. So secakep apapun lu dandan dari rumah, ga bakalan deh bisa tetep cantik pas nyampe di kantor hehehe…. Yang parah lagi adalah copet yang merajalela dan pelaku sekuhara yang banyak banget didalam metromini *terutama yang penuh2*

Setelah mulai kos, gw mulai naek bis kota. Milih yang patas ac dong….biar lebih nyaman. Mulai bisa rada tenang, karena gw sering dapet tempat duduk. Dan gw bisa tidur2 ayam selama perjalanan yang macet. Tapi ketika hujan melanda, Patas AC pun berubah menjadi bis non patas. yang sesak berjejal dan AC na ga kerasa….

Hal yang tidak jauh berbeda juga dialami oleh teman2 pengguna kereta listrik ato KRL. Yang patas AC jumlahnya terbatas dan sering kali jam nya tidak sesuai yang diharapkan.

Beberapa tahun terakhir, pemda DKI menawarkan Bis Tranjakarta sebagai alternatif. Dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pelayanan sistem transportasi di Jakarta. Pada awalnya memang cukup menjanjikan. Secara ini bis diberi prioritas jalur khusus yang tidak boleh dimasukin oleh siapapun. So, bis ini pun bisa melaju cepat, nyaman dan aman.

Tapi entah kenapa akhir2 ini busway juga jadi ga nyaman. Pada jam2 berangkat, istirahat dan pulang kantor, busway ini tak ubahnya bis2 lain yang berseliweran di jalan2 di kota Jakarta. Penuh sesak dan mulai tidak aman.

So gw rasa kalo dibilang program busway itu berhasil, jawabannya secara bisnis “ya”. Busway ini menguntungkan banget dari segi pendapatan. Tapi secara tujuan umumnya untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di Jakarta sepertinya “Tidak”. Busway tidak berhasil membuat orang yang naek mobil pribadi beralih ke kendaraan umum, karena tetap lebih nyaman naek mobil sendiri. Busway hanya berhasil memindahkan para pengguna bus umum biasa ke bus yang lebih cepat, itu saja.

I wonder, apa yang terjadi dengan Monorel kelak bila diterapkan di Jakarta?

7 thoughts on “Transportasi Masal di Jakarta

  1. Ya begitulah pengurus kota Jakarta yg pada tuli telinganya dan buta matanya… Mal aja dibikin banyak2, sedangkan soal transportasi umum? nanti dulu..Atau mungkin jg karena Jakarta makin tambah sesak penduduknya ya? (o_o)a

  2. mbak aku “fans” bus transjakarta yg skrg suka “selingkuh” balik ke mikrolet,,,karna klo jam pulang kantor nih mbak,, bukan apa2, di terminal kyk senen bujug dah,, udh kyk kandang ayam!penuh sesak dan kyknya antrian gak maju2,, jd klo naik busway itu bukan lama di jalan, tapi lama nungguin busnya!!aku udh sering bilang (bilang ke siapa?!) klo masalah kyk gitu bs teratasi klo armadanya ditambah gitu,,, ehh udh brp bulan kyknya gak nambah2 tuh jumlah bisnya,, +___+

  3. untung saya ngekos mba.. jalan kaki ga sampe 15 menit :Dteringat dulu sebelum ngekos nebeng di rumah ua di tangerang. 1,5 jam pergi, 2 jam pulang… 3,5 jam dihabiskan dijalan, hueeeeee…. udah gitu jatohnya nya ongkosnya muahaaalll bgt. untung cuman sebulan. mending ngekos deh, hehehehe *jadi curhat*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s