Nyampah

Gw lagi mau serius ngomongin soal sampah (dalam arti yang sesungguhnya), bukan nyampah2 OOT yang biasa gw lakuin kalo lagi butuh hiburan. Tapi kalo kalian mo nyampah OOT disini juga boleh aja sih… hehehehehe

Dari jaman gw kuliah tahun 90an sampe sekarang kayaknya masalah sampah dan pengelolaannya selalu kayak lingkaran setan yang ga pernah ada solusinya. Setiap TPA (Tempat Pembuangan Akhir sampah) selalu menuai kontroversi dan keributan. Mulai dari masalah bau dan debu2 yang berterbangan disekitar jalan masuk ke TPA, hingga pencemaran air tanah akibat dari air sampah yang mencemari sumur2 penduduk.
Mungkin masih segar dalam ingatan kita kasus TPA Bojong di Bogor yang mendapat penolakan keras dari masyarakat sekitar nya. Padahal sudah ratusan Milyar investasi yang dikeluarkan, dengan menggunakan teknologi berkonsep ramah lingkungan, tetap saja tidak dapat diterima oleh masyarakat.

Juga kasus longsornya TPA leuwigajah di Bandung yang menelan korban jiwa dan berdampak pada kotornya kota Bandung akibat bertebarannya sampah diseluruh penjuru kota, karena tidak ada satu lokasi pun yang bersedia dijadikan TPA. Gw sebagai warga Bandung (walopun lebih sering di Jakarta) mengalami sampah gw bertumpuk di depan rumah karena berhari2 tidak terangkut oleh truk sampah.

Serba salah. Ga ada TPA, sampah lu bertumpuk dan jadi penyakit. Ada TPA, lokasi tersebut mesti “dikorbankan” untuk dicemari. Siapa yang mau? Jadi pada dasarnya sampah itu HARUS diolah.

Mengapa?

Simple saja: “Karena manusia akan seterusnya dan selamanya memproduksi sampah. Sama halnya industri seterusnya memproduksi limbah.”

Bagaimana agar limbah tidak ada? Ya hentikan saja industrinya.
Bagaimana agar sampah tidak ada? Ya hentikan saja aktivitas manusianya.

Apa itu mungkin?? Jelas tidak.

Maka dari itu, mau tidak mau sampah harus diolah. Berangkat dari pemikiran itulah, kita harus berpikir lebih lanjut bagaimana sampah tersebut harus diolah.

Gw jadi pengen tau bagaimana negara2 maju mengelola sampahnya. Salah seorang temen gw orang Bappenas pernah ke Jepang buat liad sistem pengelolaan sampahnya yang sangat canggih, terkendali dan dibiayai oleh pemerintah melalui pajak *ingat Jepang adalah salah satu negara yang berpajak tinggi* Dan jangan lupa masyarakat nya melakukan pemilahan sampah sendiri dan teratur membuang sampah sesuai jadwal yang ditentukan pemerintah.

Masyarakat Indonesia cenderung malas dalam memilah sampah. Sampah sisa makanan dicampur dengan sampah plastik, kaleng, botol, kertas dll. Gerakan pemisahan sampah sudah sering digaungkan meskipun hanya sesayup sampai (alias kurang gencar dikampanyekan). Udah gitu demen banget nyampah (dalam arti harafiah). Lebih suka beli makanan cepat saji yang dibungkus stereoform daripada bawa rantang sendiri. Lebih suka dapet kresek dari supermarket daripada bawa tas belanjaan sendiri dan sebagainya….. Jadi sepertinya upaya untuk mereduksi dan memisahkan sampah masih sangat jauh untuk bisa terwujud.

Balik lagi ke metoda pengolahan sampah, saat ini ada beberapa cara yaitu
1. Penimbunan di darat (dengan metoda Sanitary Landfill)
2. Pembakaran (dengan Incinerator)
3. Recycle and Reuse (daur ulang dan pemanfaatan kembali)
4. Pengomposan (dijadikan pupuk)
5. Waste to Energi (dijadikan pembangkit listrik)
6. Meminimalkan sampah

Dari semua metoda pengolahan itu, yang manakah yang bisa kita lakukan sendiri? Minimal untuk diri kita sendiri saja…..

Peduli lingkungan bukan hanya membuang sampah pada tempatnya, tapi yang lebih penting adalah mengurangi sampah.

Hanya sebuah renungan… Haiqa lagi kumat… hehehehe

10 thoughts on “Nyampah

  1. gw salah satu yg males milah sampah..tapi at lest now guwe kalo belanja nga mau pake plastik hehhehe bawa sendiri..palin guwe meminimalkan sampah (which is haaaaaaaaaaaard)haiqa kumatnya hebad euy..guwe kalo lagi kumat posting penggugah napsu huahuahuauauauaa*hormon nih yg bicara*

  2. gambarnya kabur mba…sbenere keren juga kalo ada pengelolaan sampah swadaya..kayak disuatu kampugn di jkt *lupa namanya* jadi mreka merecycle sendiri sampah-nya..tp emang butuh waktu sie..

  3. mmh…berusaha ga buang sampah sembarangan. biasanya klo belum nemu tempat sampah, gue masukin tas dulu. trus klo belanja gue suka menolak dikasih kresek. Belanjaan gue masukin ke tas lipet. Lagi kepikiran harusnya konsumen yang ga minta kresek dikasih hadiah apa gitu sbg reward. Jadi orang2 akan seneng bawa tas sendiri. Kebanyakan orang Indonesia klo liat suatu program ga ada manfaat yang menguntungkan atau hukuman yang merugikan langsung ke mereka ga bakalan digubris…mau sebagus apapun programnya

  4. kalo di Denmark, kalo lu belanja dan minta kantong kresek lu dikenain biaya 2 krowner sekitar 3000 perak kalo ga salah… Kalo di indo mesti dibalik ye?? kalo ga mau pake kresek dapet diskon gitu kali??

  5. Iya teh di eropa dan amrik emang kalo plastik byr lagi makanya mereka keluarin kantongan yg bs dibeli..Di sini mah susyeeee..bs2 ntar nambah lap.kerja joki plastik hhahahhahha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s