Pemberdayaan Masyarakat

Numpang curhat tentang kerjaan gw yang baru. Baru bulan ke-3 ini gw kerja di suatu area yang agak jauh dari jangkauan gw. Walau posisi gw tetep di environment, tapi nuansanya lebih ke pemberdayaan masyarakat. Apa sih sebenernya pemberdayaan itu?

Pemberdayaan masyarakat atau community development hasil gw meng-gugel adalah Proses pembangunan dimana masyarakat berinisiatif untuk memulai kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Tujuan utamanya adalah untuk peningkatan standar hidup masyarakat baik tingkat pendapatannya, tingkat pendidikannya, tingkat kesehatannya maupun tingkat konsumsi pangan, sandang dan papan.

Jadi ceritanya masyarakat diharapkan untuk bisa meningkatkan standar hidupnya dengan inisiatif dari dirinya sendiri. “Dipaksa” untuk berpikir apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Misalnya untuk meningkatkan pendapatannya masyarakat merasa perlu untuk memperbaiki jalan di kampungnya, biar lancar transaksi jual beli atau bisa membawa hasil buminya buat dijual ke kota. Ato untuk meningkatkan kesehatannya, masyarakat merasa perlu untuk membuat jamban yang higienis, atau drainase yang bagus biar lingkungannya ga becek ato banjir.

Nah kalo inisiatif sudah terbangun, maka pemerintah nyediain 60% dananya untuk membangunnya. Sisanya masyarakat harus menyediakan sendiri, atau swadaya. Misalnya masyarakat bisa nyumbang tenaga, ato nyumbang bahan bangunan ato nyumbang sedikit uang. Cuman yang jadi point penting adalah bagaimana bisa menimbulkan inisiatif itu… dan inisiatifnya harus bersifat kolektif. Oleh karenanya masyarakat perlu didampingi oleh orang yang disebut sebagai fasilitator desa/kelurahan, yang bakal ngajarin cara bikin proposal, cara bikin anggaran dan cara mempertanggung jawabkannya.

Pendekatan pemberdayaan ini diyakini sangat efektif untuk bisa mempercepat pembangunan sumber daya manusia indonesia. Sampe2 pemerintah kita ngutang jutaan USD demi program semacam ini. Sebut saja program2 air bersih dan sanitasi untuk masyarakat miskin kayak Pro-air, CWSH, WSLIC, Pamsimas, Sanimas dll yang dimotori oleh Kementrian Kesehatan dan Pekerjaan Umum.

Kira2 – 5 tahun yang lalu, waktu gw kerja di World Bank, adalah pertama kalinya gw bersentuhan sama proyek pemberdayaan. Waktu itu pemerintah mo pinjem 150 juta USD buat program Pamsimas. Kerjaan gw adalah mendesain programnya agar sasarannya tercapai dan menghitung berapa sebenernya kebutuhan uangnya. Jujur aja, waktu mau negosiasi perjanjian utang antara WorldBank dan Pemerintah, gw mo nangis. Karena gw pikir rakyat Indonesia mesti menanggung utang itu selama 40 tahun *iya boooo… 40 tahun aja, belon tentu gw masih idup*

Tapi gw coba berpikir positif. Bahwa duit sebanyak itu dipakai untuk ngebayarin gaji fasilitator kelurahan yang jumlahnya sampe 10.000 orang. Seenggaknya bisa ngurangi jumlah pengangguran di Indonesia ini. Selain untuk membangun jalan/drainase/MCK ato infrastruktur lainnya. Dan seenggaknya, bisa membuat masyarakat jadi pinter…. Pinter bikin proposal proyek, pinter bikin rencana anggaran proyek *meski proyeknya kecil banget* dan pinter bikin pertanggung jawabannya.

Sekarang, 5 tahun kemudian gw jadi pelakunya. Jadi pengawas proyek sejenis yang namanya PNPM. Gw ada di bagian pengawasan proses pemberdayaan masyarakat. Apakah masyarakatnya sudah berdaya apa belum. Kalo belum maka salahkan fasilitatornya *lol* Gw ngawasin 19 propinsi, 157 kabupaten/kota, 3.500 desa…… *mampus ga tuh* makanya gw jadi makin sering keliling2 Indonesia.

Jujurly, gw ga suka ama pekerjaan ini. Bukan ga suka keliling2nya tapi setelah gw dateng ke 3 propinsi, gw ngeliat kalo masyarakat makin pinter ngambil untung dari proyek. Pembukuannya sering dobel… *yah ga banyak sih ngambilnya, paling 500rban* Fasilitatornya ga bisa ngawasin dan ga confident buat negur. Trus para pengawasnya di tingkat kota/propinsi terlalu pinter ngomong dan teori. Bahkan ada yang sinis, pesimistis dan cenderung cuek.

Tugas gw sebagai environmentalist di proyek ini adalah make sure kalo masyarakat bisa memikirkan aspek lingkungan pada saat membangun jalan/drainase. Makanya gw minta ke para pengawas di propinsi/kota untuk menanamkan pada masyarakat supaya mikirin dampak proyek sebelum dibangun. Tau apa jawaban salah satu pengawas kota itu? “Itu bukan tugas kita bu… itu tugas dinas kesehatan dan dinas sosial”

NAJISSS!!! *gw emosi jiwa jadinya* Gw jawab ama dia “Kita kerja di proyek pemberdayaan masyarakat, Mas… harus bisa memberdayakan masyarakat. Jadi ada unsur penyuluhannya juga. Kalo mas ga mau melakukan penyuluhan, kerja aja di developer, kontraktor ato konsultan yang cuman mikirin aspek teknis… ga perlu repot2 ngajarin masyarakat” …… *sigh gw sedih* Jangan sampe ya, pemerintah ngutang sana-sini buat ngegaji orang2 kayak gini!!……

7 thoughts on “Pemberdayaan Masyarakat

  1. kantorku swasta,rekrut dirut ex menteri,klo si bapak ex menteri mau pergi dinas keluar daerah, berangkatlah duluan ajudannya, baru dia, bagi swasta, please dech itu gak efisiensoal na duitnya kan dapet dari kerja dulu, beda ama pemerintah yg dari duit rakyat, negara….banyak lah sikap pemborosan yang dia bawa dari gov ke swastajadi bisa kebayanglah mbak fi rasanya mau nangis liat yg seperti itu,tetep semangat ya mbak fi…..

  2. semangat ya mba fiy… kalo perlu ada penyuluhan juga ttg budaya anti korupsi… karena setauku uang yg ngucur dari pemerintah pusat sampe didesa2 dan pedalamn sudah dipangkas disana-sini… kapan mau majunya negara ini kalo masih banyak yg kaya bgitu…

  3. oh sekarang juga aku suka nyesel… (dikantorku yg sekarang) kenapa sih harus ngeluarin duit cuma buat makan, untuk rapat, acara2, yg ih…satu porsi bisa untuk makan 3 orang itu pun sudah yg enak banget… kadang2 ngerasa ini buang2 duit banget… even kadang aku nikmatin juga (lah wong disediain)…tapi juga ngerasa bersalah… apalagi biasanya mubazir….weleh2… maap jadi OOT

  4. sticyo said: karena setauku uang yg ngucur dari pemerintah pusat sampe didesa2 dan pedalamn sudah dipangkas disana-sini…

    itu kalo yang BLT programnya presiden kita yg sekarang. Duit dibagi2 gitu aja… Masyarakat tinggal nerima ga perlu repot2 bikin proposal ato yang sebangsanya…Kalo proyek gw ini, duit nya dikasih sesuai ama proposal yang diajuin oleh masyarakat.Kalo masyarakat ga ngajuin proposal ya ga dikasih… Setau gw ga pernah ada keluhan soal kurang duitnya karena dipotong2 kok…. sesuai aturan mainnya yaitu 60% dari proposal yang diajuin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s